KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat, kasih dan
karunia-Nya. Kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk
maupun isinya yang sederhana, dengan judul “ Peranan Bahasa dan Matematika dalam Kelimuan.”
Semoga makalah ini dapatdipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun
pedoman bagi pembaca.
Harapan
kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.
Kami
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan dikarenakan
kurangnya pengalamn dan wawasan dari kami, oleh karena itu kami berharap kepada
pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.
Medan,
November
2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR
ISI....................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
................................................................................. 1
A.
Latar
Belakang Masalah ................................................................ 1
B.
Rumusan
Masalah .......................................................................... 2
C. Tujuan Pembahasan......................................................................................2
D. Manfaat Pembahasan .................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................3
A.
Pengertian Matematika
Ditinjau dari Segi Ontologi,
Epitemologi dan
Aksiologi............................................................ 3
B.
Pengertian Bahasa
Ditinjau dari Segi Ontologi,
Epitemologi dan
Aksiologi............................................................ 7
C.
Peranan Matematika dan Bahasa dalam Keilmuan........................ 10
BAB III. PENUTUP...................................................................................... 13
A. Kesimpulan..................................................................................... 13
B. Saran............................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Seiring dengan berkembangnya
peradaban dunia kompleksnya masalah kehidupan menuntut sumber daya manusia yang
handal dan mampu berkompetisi dalam dunia keilmuan mencakup semua bidang
keilmuan itu sendiri.
Filsafat ilmu
pengetahuan merupakan cabang filsafat yang mempelajari teori pembagian ilmu,
metode yang digunakan dalam ilmu, tentang dasar kepastian dan jenis keterangan
yang berkaitan dengan kebenaran ilmu tertentu.
Perkembangan
ilmu dan filsafat diawali dari rasa ingin tahu, kemudian
meningkatnya rasa ingin tahu, lalu kebiasaan penalaran yang radikal dam
divergen yang kemudian terbagi dua yaitu berkembangnya logika Deduktif dan
Induktif, selanjutnya gabungan logika deduktif dan induktif sering disebut
dengan proses Logika, Hipothetico dan Verifikasi, yang menjadikan
berkembangnya kreativitas.
Konsep
terbaru filsafat abad 20 didasarkan atas dasar fungsi berfikir, merasa, cipta
talen dan kreativitas. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat
metode ilmiah. Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik perlu sarana
berfikir, yang memungkinkan dilakukannya telaah ilmiah secara teratur dan
cermat. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat membantu kegiatan
ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Tujuan mempelajari sarana
ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan telaah ilmiah secara baik,
sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan
yang memungkinkan untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari.
Ditinjau
dari pola berfikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara pola berfikir
deduktif dan pola berfikir induktif, untuk itu penalaran ilmiah menyadarkan
kita kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Penalaran
ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada
hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis
yang diajukan. Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh
penguasaan sarana berfikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah kearah penguasaan
itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berfikir
tersebut dalam keseluruhan berfikir ilmiah tersebut.
Berdasarkan
pemikiran ini, maka tidak sukar untuk dimengerti mengapa mutu kegiatan keilmuan
tidak mencapai taraf yang memuaskan, sekiranya sarana berfikir ilmiahnya memang
kurang dikuasai. Melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, diperlukan sarana yang
berupa matematika
dan bahasa.
Matematika merupakan matematika
adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur abstrak menggunakan logika
simbolik dan notasi matematika pandangan lain tergambar dalam filosofi
matematika.
Bahasa merupakan kapasitas
khusus yang ada pada manusia
untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi
yang kompleks
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakng masalah diatas, adapun
yang menjadi rumusan dalam penulisan ini, yaitu :
1. Apa
pengertian Matematika ditinjau dari aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi
?
2. Apa
pengertian Bahasa ditinjau dari aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi ?
3. Bagaimana
peranan matematika dan bahasa dalam keilmuan ?
C.
Tujuan
Penulisan
Adapun yang menjadi manfaat penulisan dalam makalah
ini adalah agar dapat mengetahui pengertian matematika dan bahasa ditinjau dari
aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi dan peranannya dalam keilmuan.
D.
Manfaat
Penulisan
Adapun yang menjadi manfaat penulisan dalam makalah ini untuk menambah
wawasan dan pengetahuan pembaca tentang peranan matematikadan bahasa dalam
keilmuan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Matematika Ditinjau dari Segi Ontologi, Epitemologi dan Aksiologi
Matematika diambil dari bahasa Yunani, μαθηματικά
– mathÄ“matiká) Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti
pengetahuan atau ilmu (knowledge,science), secara umum ditegaskan sebagai
penelitian pola dari struktur, perubahan,dan ruang: tak lebih resmi, seorang
mungkin mengatakan adalah penelitian bilangan dan angka. Dalam pandangan
formalis, matematika adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur
abstrak menggunakan logika simbolik dan notasi matematika; pandangan lain
tergambar dalam filosofi matematika.
Berbagai
pendapat muncul tentang pengertian matematika, dipandang dari pengetahuan dan
pengalaman dari masing-masing yang berkepentingan. Ada yang mengatakan
matematika itu adalah bahasa symbol, matematika adalah bahasa numerik.
Matematika
adalah sarana berpikir, matematika adalah logika pada masa dewasa, matematika
adalah ratunya ilmu sekaligus pelayannya, matematika adalah sains mengenai
kuantitas dan besaran, matematika adalah suatu sains yang bekerja menarik
kesimpulan-kesimpulan yang perlu, matematika adalah sains formal yang murni, matematika
adalah sains yang memanipulasi simbol, matematika adalah ilmu tentang bilangan
dan ruang, matematika adalah ilmu yang mempelajari hubungan pola, bentuk,dan
struktur, matematika adalah ilmu yang abstrak dan deduktif, matematika adalah
cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistimatik, matematika
adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi, matematika adalah
pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan, matematika
adalah tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk,
matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik, matematika
adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat, dan matematika adalah
aktivitas manusia.
Menurut Riedesel:
Matematika adalah kumpulan kebenaran dan aturan, matematika bukanlah sekedar
berhitung. Matematika merupakan sebuah bahasa, kegiatan pembangkitan masalah
dan pemecahan masalah, kegiatan menemukan dan mempelajari pola serta hubungan.
Matematika menurut James dan James (1976): Dalam kamus
matematikanya mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai
bentuk, susunan besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang
lainnya dengan dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang,
yaitu aljabar, analisis dan goemetri.
Beberapa
pengertian matematika yang dikemukakan di atas berfokus pada tinjauan pembuat
pengertian itu. Hal ini dikemukakan dengan maksud agar dapat menangkap dengan
mudah keseluruhan pandangan para ahli matematika. Ada tokoh yang sangat tertarik
dengan perilaku bilangan, maka ia melahat matematika dari sudut pandang
bilangan itu. Tokoh lain lebih mencurahkan perhatian kepada struktur-struktur
itu. Tokoh lain lagi lebih tertarik padapola piker atau sistematika, maka ia
melihat matematika dari sudut pandang matematika. Sehingga banyak muncul
definisi atau pengertian tentang matematika yang beraneka ragam. Atau dengan
kata lain tidak terdapat satu definisi tentang matematika yang tunggal dan
disepakati oleh semua tokoh atau pakar matematika.
Ontologi adalah teori mengenai apa yang ada, dan
membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.
Eksistensi dari entitas-entitas matematika juga menjadi bahan pemikiran
filsafat. Adapun metode-metode yang digunakan antara lain adalah:abstraksi
fisik yang dimana berpusat pada suatu obyek, Abstrksi bentuk adalah sekumpulan
obyek yang sejenis, Abstraksi metafisik adalah sifat obyek yang general. Jadi, matematika ditinjau dari aspek
ontologi, dimana aspek ontologi telah berpandangan untuk mengkaji bagaimana
mencari inti yang yang cermat dari setiap kenyataan yang ditemukan, membahas
apa yang kita ingin ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, menyelidiki sifat
dasar dari apa yang nyata secara fundamental.
Epistemologi merupakan salah satu bagian dari
filsafat dimana pemikiran reflektif terhadap segi dari pengetahuan seperti
kemungkinan, asal-mula, sifat alami, batas-batas, asumsi dan landasan,
validitas dan reliabilitas sampai kebenaran pengetahuan. Adapun metode yang
sering dipakai para filusuf adalah metode Empiris yang berarti fakta yang kita
amati (john locke), rasionalisme adalah fakta yang diolah, fenomenalisme
sesuatu yang berkaitan dengan fenomena-fenomena (kant), dan intuisionisme.
Jadi, matematika jika ditinjau dari aspek epistemologi,
matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan
pengukuran secara kuantitatif. Dengan konsep-konsep yang kongkrit, kontektual,
dan terukur matematika dapat memberikan jawaban secara akurat. Perkembangan
struktur mental seseorang bergantung pada pengetahuan yang diperoleh siswa
melalui proses asimilasi dan akomodasi. Penalaran matematika adalah penalaran
induktif dan deduktif . Berpikir induktif diartikan sebagai berpikir dari
hal-hal khusus menuju umum, berpikir deduktif diartikan sbagai berpikir dari
hal khusus menuju umum.
Aksiologi yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang
akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan ilmu. Aksiologi : Filsafat
nilai, menguak baik buruk, benar-salah dalam perspektif nilai.
Aksiologi matematika sendiri terdiri dari etika yang
membahas aspek kebenaran, tanggungjawab dan peran matematika dalam kehidupan,
dan estetika yang membahas mengenai keindahan matematika dan implikasinya pada
kehidupan yang bisa mempengaruhi aspek-aspek lain terutama seni dan budaya
dalam kehidupan. Jadi, jika ditinjau dari aspek aksiologi, matematika seperti
ilmu-ilmu yang lain, yang sangat banyak memberikan kontribusi perubahan bagi
kehidupan umat manusia di jagat raya nan fana ini. Segala sesuatu ilmu di dunia
ini tidak bisa lepas dari pengaruh matematika.
Dimulai dengan pertanyaan dasar untuk apa penggunaan
pengetahuan ilmiah? Apakah manusia makin cerdas dan makin pandai dalam mencapai
kebenaran ilmiah,maka makin baik pula perbuatanya. Dengan kemajuan ilmu dan
teknologi maka pemenuhan kebutuhan dapat diperoleh secara cepat, tepat dan
mudah. tetapi ada juga yang menimbulkan bencana bagi manusia seperti
perang,senjata nuklir dan lain-lain.
bagaimana batas wewenang penelitian keilmuwan dan kemana perkembangan ilmu harus diarahkan,harus ditampakkan interaksi ilmu dan moral.
bagaimana batas wewenang penelitian keilmuwan dan kemana perkembangan ilmu harus diarahkan,harus ditampakkan interaksi ilmu dan moral.
Dari ilmu yang abstrak berubah menjadi teknologi
untuk memecahkan masalah praktis dan moral. Begitu juga matematika kita
mempelajarinya secara abstrak tetapi dapat digunakan dalam kehidupan
sehari-hari sebagai ilmu pengetahuan.
Manusia adalah makhluk yang berpikir artinya manusia selalu berpikir/memikirkan masalah secara rasional(pemikiran logis). Sikap seorang ilmuwan didasarkan pada etika dan agama berarti tanggungjawab terhadap Tuhan, masyarakat dan diri sendiri. Berkaitan dengan hal tersebut matematika dipandang sebagai ilmu abstrak yang tidak bebas nilai dan moral,sehingga hasil pemikiran seorang matematikawan bisa bermanfaat bagi umum.Tidak dapat menerima sesuatu dengan asal-asalan tetapi harus dipikir secara mendalam dan teliti.
Manusia adalah makhluk yang berpikir artinya manusia selalu berpikir/memikirkan masalah secara rasional(pemikiran logis). Sikap seorang ilmuwan didasarkan pada etika dan agama berarti tanggungjawab terhadap Tuhan, masyarakat dan diri sendiri. Berkaitan dengan hal tersebut matematika dipandang sebagai ilmu abstrak yang tidak bebas nilai dan moral,sehingga hasil pemikiran seorang matematikawan bisa bermanfaat bagi umum.Tidak dapat menerima sesuatu dengan asal-asalan tetapi harus dipikir secara mendalam dan teliti.
Karakteristik matematika terletak pada kekhususannya
dalam mengkomunikasikan ide matematika itu melalui bahasa numerik. Dengan
bahasa numerik ini, memungkinkan seseorang dapat melakukan pengukuran secara
kuantitatif. Sedangkan sifat kekuantitatifan dari matematika tersebut, dapat
memberikan kemudahan bagi seseorang dalam menyikapi suatu masalah. Itulah
sebabnya matematika selalu memberikan jawaban yang lebih bersifat eksak dalam
memecahkan masalah.
Ilmu Matematika diantaranya meliputi aritmatika,
geometri, aljabar dll sehingga kalau mau sok idealis tentu saja banyak manfaat
Matematika untuk ilmu pengetahuan lain dan juga untuk kehidupan, misalnya:
v Kombinasi
(Statistika) bisa digunakan untuk mengetahui banyaknya formasi tim bola voli
yang bisa dibentuk.
v Aritmatika
hampir digunakan setiap hari, yaitu untuk hitung-menghitung.
v Geometri
bisa digunakan para ahli sipil karena geometri salah satunya adalah membahas
tentang bangun dan keruangan.
v Aljabar
bisa digunakan untuk memecahkan masalah bagaimana memperoleh laba sebanyak
mungkin dengan biaya sesedikit mungkin.
v Mungkin
dengan logika Matematika juga bisa membantu untuk berpikir logis, tapi tentu
saja bukan hanya Matematika saja yang bisa membantu dalam berpikir logis.
.
Adapun tujuan tujuan mempelajari matematika diantaranya:
Adapun tujuan tujuan mempelajari matematika diantaranya:
v Melatih
cara berfikir dan benalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan
penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukan kesamaan, perbedaan, konsisten
dan inkonistensi.
v Mengembangkan
aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan
mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi
dan dugaan, serta mencoba-coba.
v Mengembangkan
kemampuan pemecahan masalah.
v Mengembangkan
kemampuan menyampaikan informasi atau memgkomunikasikan gagasan melalui
pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, dalam menjelaskan gagasan. Sebagai
tambahan nilai matematika juga dapat kita lihat dalam:
·
Digunakan dalam bidang
sains dan teknik.
·
Untuk penelitian masalah
tingkah laku manusia.
·
Membantu manusia dalam
berdagang dan bidang perekonomian.
·
Ilmu matematikan juga
digunakan dalam bidang komputer.
·
Membantu manusia
berpikir secara matematis dan logis.
·
Dengan bilangan, manusia dapat menentukan
kuantitas.
B.
Pengertian
Bahasa Ditinjau dari Segi Ontologi,
Epitemologi dan Aksiologi
Basaha merupakan suatu bentuk alat komunikasi manusia yang berupa
lambang bunyi melalui alat ucap, dimana setiap suara yang dikeluarkannya
memiliki arti. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahasa dinyatakan sebagai
sistem bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk
bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
Bahasa juga dijabarkan oleh beberapa ahli seperti Harimurti
Kridalaksana yang menyatakan bahwa bahasa adalah sistem bunyi bermakna yang
dipergunakan untuk komunikasu oleh kelompok manusia. Lalu Finoechiaro yang
menyatakan bahwa bahasa adalah simbol vokal yang arbitrer yang memungkinkan
semua orang dalam suatu kebudayaan tertentu, atau orang lain yang mempelajari
sistem kebudayaan itu, berkomunikasi atau berinteraksi.
Studi ontology bahasa diantaranya, menurut Keraf dalam
Smarapradhipa, memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan
bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi
yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi
yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.
Berbeda dengan
pendapat Keraf, Walija mengungkapkan definisi
bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide,
pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain.
Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh
Syamsuddin, Beliau memberi dua
pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk
pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai
untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari
kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan
bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan.
Bahasa merupakan sebuah komunikasi antara seseorang dengan
orang lain sehingga membentuk sebuah interaksi melahirkan pemahaman antara
keduanya. Bahasa juga dapat diibaratkan sebuah remote control yang dapat
menyetel manusia tertawa, sedih, menangis lunglai, semangat dan sebagainya.
Bahasa juga dapat digunakan untuk memasukkan gagasan-gagasan ke dalam pikiran
manusia. Bias kita bayangkan seandainya kita hidup di bumi ini tanpa menggunakan
bahasa, maka yang akan terjadi adalah sikap individualis antar sesama manusia,
jangankan antar sesama, dengan makhluk lainpun kita perlu menggunakan bahasa.
Dengan
bahasa, kita dapat mengetahui bahwa orang lain tertarik dengan kita atau
sebaliknya, dengan bahasa kita bias mengetahui peradaban sebuah negara di
dunia, dengan bahasa kita biasa menyampaikan informasi kepada orang lain yang
membutuhkan. Maka dari itu mempelajari bahasa itu menurut saya sangatlah
penting, terutama mempelajari bahasa Indonesia. Setidaknya sebagai warga negara
Indonesia, minimal kita harus bisa
berbahasa Indonesia dengan baik.
Jika
ditinjau aspek epitemologi bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan
gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Bahasa memiliki
berbagai definisi. Definisi bahasa adalah sebagai berikut:
1.
Suatu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagasan dan
keadaan.
2.
Suatu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep
riil mereka ke dalam pikiran orang lain
3.
Suatu kesatuan sistem makna
4.
Suatu kode yang yang digunakan oleh pakar linguistik untuk
membedakan antara bentuk dan makna.
5.
Suatu ucapan yang menepati tata bahasa yang telah ditetapkan
(contoh: Perkataan, kalimat, dan lain-lain.)
6.
Suatu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh
masyarakat linguistik.
Bahasa erat kaitannya dengan kognisi pada manusia, dinyatakan bahwa
bahasa adalah fungsi kognisi tertinggi dan tidak dimiliki oleh
hewan. Ilmu yang mengkaji bahasa ini disebut sebagai linguistik. Unsur unsur bahasa adalah ;
·
Fonem yaitu unsur terkecil dari bunyi ucapan yang bisa digunakan untuk
membedakan arti dari satu kata. Contohnya kata ular dan ulas memiliki arti yang
berbeda karena perbedaan pada fonem /er/ dan /es/. Setiap bahasa memiliki
jumlah dan jenis fonem yang berbeda-beda. Misalnya bahasa Jepang tidak mengenal fonem /la/ sehingga
perkataan yang menggunakan fonem /la/ diganti dengan fonem /ra/.
·
Morfem yaitu unsur terkecil dari pembentukan kata dan
disesuaikan dengan aturan suatu bahasa. Pada bahasa Indonesia morfem dapat
berbentuk imbuhan. Misalnya kata praduga memiliki dua morfem yaitu /pra/ dan
/duga/. Kata duga merupakan kata dasar penambahan morfem /pra/
menyebabkan perubahan arti pada kata duga.
·
Sintaksis yaitu penggabungan kata menjadi kalimat berdasarkan aturan sistematis yang
berlaku pada bahasa tertentu. Dalam bahasa Indonesia terdapat aturan SPO atau subjek-predikat-objek. Aturan ini berbeda pada bahasa
yang berbeda, misalnya pada bahasa Belanda dan Jerman aturan pembuatan kalimat
adalah kata kerja selalu menjadi kata kedua dalam setiap kalimat. Hal ini
berbeda dengan bahasa Inggris yang memperbolehkan kata kerja
diletakan bukan pada urutan kedua dalam suatu kalimat.
Bahasa ditinjau dari aspek aksiologi bahasa sebagai berikut:
1. Bahasa
Nasional
Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia
memiliki empat fungsi: (1) lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas
nasional, (3) alat perhubungan antarwarga, antardaerah, dan antarbudaya, dan
(4) alat yang memungkinkan penyatuan berbagai-bagai suku bangsa dengan latar
belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing.
2. Bahasa
Negara
Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa negara
memiliki empat fungsi yang saling mengisi dengan ketiga fungsi bahasa nasional.
Keempat fungsi bahasa negara adalah sebagai berikut: (1) bahasa resmi
kenegaraan, (2) bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan, (3) alat
perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan, dan (4) alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan
teknologi.
C.
Peranan Matematika dan Bahasa dalam
Keilmuan
Bagi dunia
keilmuwan matematika berperan sebagai bahasa simbolik yang memungkinkan
terwujudnya komunikasi yang cermat dan tepat. Matematika dalam hubungannya
dengan komunikasi ilmiah mempunyai peranan ganda, yakni sebagai ratu sekaligus
pelayanan ilmu. Di satu pihak, sebaai ratu matematika merupakan bentuk
tertinggi dari logika, sedangkan dilain pihak, sebagai pelayan matematika
memberikan buka saja system pengorganisasian ilmu yang bersifat logis namun
juga pernyataan-pernyataan dalam bentuk model matematika. Matematika bukan saja
menyampaikan informasi secara jelas dan tepat namun juga singkat. Suatu rumus
yang jika ditulis dengan bahasa verbal memerlukan kalimat yang banyak sekali,
dimana makin banyak kata-kata yang dipergunakan maka makin besar pula peluang
untuk terjadinya salah informasi dan salah interpretasi, maka dalam bahasa
matematika cukup ditulis dengan model yang sederhana sekali. Matematika sebagai
bahasa mempunyai ciri bersifat ekonomis dengan kata-kata. Matematika dapat
dikatakan hamper sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri.
Matematika
merupakan bahasa artificial yang dikembangkan untuk menjawab kekurangan bahasa
verbal yang bersifat alamiah. Untuk itu naka diperlukan usaha tertentu untuk
menguasai matematika dalam bentuk kegiatan belajar. Matematika tanpa kita
sadari memang bisa menjadi tujuan dan bukan alat itu sendiri, seperti
pengamatan anak kecil itu yang menggerutu, “ dikiranya hannya angka-angka saja
mereka bisa mengetahui”. Gejala ini kemungkinan besar disebabkan karena kita
kurang mengetahui tentang hakikat yang sebenarnya dari matematika. Tulisan
ilmiah umpanya lalu berubah menjadi kumpulan rumus dan tabel yang tidak
berbicara apa. Hal ini mungkin disebabkan anggapan yang salah bahwa mutu suatu
karya ilmiah ditentukan oleh banyaknya angka-angka dan bukan kerangka berfikir
yang didukung oleh angka-angka tersebut.
Angka tidak
bertujuan menggantikan kata-kata; pengukuran sekedar unsur dalam menjelaskan
persoalan yang menjadi pokok analisis utama. Teknik matematika yang tinggi
bukan merupakan penghalang untuk mengkomunikasikan pernyataan yang dikandungnya
dalam kalimat-kalimat yang sederhana. Matematika merupakan sarana untuk
mempermudah memahami suatu ungkapan ke dalam symbol, sehingga menghemat dari
segi bahasa serta mudah dipahami. Matemaika merupakan suatu cara yang paling
mudah dalam memformulasikan hipotesa keilmuwan. Matematika memiliki ciri utama
sebagai metode dalam penalaran.
Sedangkan peran
bahasa dalam keilmuan terletak pada manusia bagaimana menggunakan bahasa yang
baik dalam keilman, karena sejatinya keunikan manusia sebenarnya bukanlah
terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuan
berbahasa. Tanpa mempunyai kemampuan berbahasa ini maka kegiatan berpikir
secara sistematis dan teratur tidak mungkin dilakukan. Lebih lanjut lagi, tanpa
kemampuan berbahasa ini maka manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaannya,
sebab tanpa mempunyai bahasa maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai
budaya dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya. Manusia dapat
berfikir dengan baik karena dia mempunyai bahasa. Tanpa bahasa maka manusia
tidak akan dapat berfikir secara rumit dan abstrak seperti yang dilakukan pada
kegiatan ilmiah. Demikian juga tanpa bahasa maka kita tidak akan dapat
mengkomunikasikan pengetahuan kita kepada orang lain. Binatang tidak diberkahi
dengan bahasa yang sempurna sebagaimana kita miliki, oleh sebab itu maka
binatang tidak dapat berfikir dengan baik dan mengakumulasikan pengetahuannya
lewat proses komunikasi seperti kita mengembangkan ilmu.
Adanya simbol
bahasa yang bersifat abstrak ini memungkinkan manusia untuk memikirkan sesuatu
secara berlanjut. Demikian juga bahasa memberikan kemampuan untuk berfikir secara
teratur dan sistematis. Taransformasi obyek faktual menjadi symbol abstrak yang
diwujudkan lewat perbendaharaan kata-kata ini dirangkaian oleh tata bahasa
untuk mengemukakan suatu jalan pemikiran atau ekspresi perasaan. Kedua aspek
bahasa ini yakni aspek informative dan emotif keduanya tercermin dalam bahasa
yang kita gunakan. Artinya, kalau kita berbicara maka pada hakikatnya informasi
yang kita sampaikan mengandung unsur-unsur emotif, demikian juga kalau kita
menyampaikan perasaan maka ekspresi itu mengandung unsur-unsur informatif.
Seperti yang dicontohkan oleh Bertrand Russell, “musik dapat dianggap sebagai
bentuk dari bahasa, di mana emosi terbebas dari informasi, sedangkan buku
telepon memberikan kita informasi sama sekali tanpa emosi.
Jadi bahasa mengkomunikasikan
tiga hal, yakni buah pikiran, perasaan, dan sikap. Menurut Kneler bahasa dalam
kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif dan afektif. Fungsi
simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah sedangkan fungsi emotif
menonjol dalam komunikasi estetik. Dalam komunikasi ilmiah sebenarnya
sebenarnya proses komunikasi itu harus terbebas dari unsure emotif ini, agar
pesan yang disampaikan bisa diterima secara reproduktif, artinya identik dengan
pesan yang dikirimkan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Matematika
merupakan penyampaian makna melalui simbol atau lambang. Matematika
mengembangkan bahasa numeric yang menafikan unsur emosi, kabur dan majemuk
seperti yang terdapat dalam bahasa. Melalui unsur ini, manusia dapat melakukan
pengukuran secara kuantitatif yang ini tidak diperoleh dalam bahasa yang selalu
memberi kemungkinan menggunakan perasaan yang bersifat kualitatif.
Kemampuan
berbahasa memungkinkan manusia untuk terus menerus memikirkan sesuatu yang dari
pemikirannya itu dapat melahirkan ilmu. Bahasa disebut sebagai sarana berfikir
ilmiah karena memiliki peranan yang amat luas. Ia menjadi sarana komunikasi
emosi, afeksi dan sekaligus simbolik. Oleh karenanya bahasa sebagai sarana
berfikir ilmiah tentu saja harus objektif dan harus membuang kecendrungan sifat
emotif dan afektif.
B.
Saran
Dengan mengetahui secara singkat tentang peranan matematika dan bahasa
dalam keilman. maka diharapkan kepada pembaca khususnya mahasiswa agar dapat
menggunakannya dalam megembangkan karya tulis ilmiah. Dan untuk menambah
wawasan yang lebih luas lagi, sebaiknya kita melengkapi dengan berbagai
referensi lain.
DAFTAR PUSTAKA
http://efrizalmalalak.blogspot.com/2012/04/filsafat-ilmu-kedudukan-bahasa.html